Untuk Masyarakat Dengan Injeksi Vaksin Sinovac, Bersiap – siap Untuk Injeksi Vaksin Yang Ketiga.

GRESIK – JATIM, Mitrabratanews.com – Informasi terbaru untuk masyarakat yang mendapat jatah injeksi vaksin Sinovac harap bersiap – siap mendapatkan suntikan vaksin ketiga yang berfungsi sebagai booster. Menurut Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman mengatakan pemerintah Indonesia memang perlu meninjau imbauan pelaksanaan penyuntikan vaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster bagi mereka yang sudah diinjeksi buatan Sinovac.

Kabar Dicky ini sampaikan berdasarkan hasil studi peneliti di China yang mengungkap bahwa antibodi dari vaksin Sinovac melemah setelah enam bulan.

“Saya menyimpulkannya sih dari data di lapangan saja ya, bahwa ada kasus infeksi, kematian dan break to invection-nya cukup banyak setelah enam bulan (penyuntikan dosis kedua),” kata Dicky.

Dicky menjadi salah satu orang yang paling bersuara agar pemerintah Indonesia segera melaksanakan vaksinasi dosis ketiga setelah melihat infeksi dan kematian yang kembali terjadi pada tenaga kesehatan.

“Perlu ada booster untuk memberikan perlindungan tambahan, menambah lagi perlindungan,” jelas Dicky.

Dicky menambahkan agar kekuatan vaksin dosis ketiga yang menjadi booster tersebut harus yang sudah terbukti bisa melawan virus varian Delta ataupun varian baru lainnya.

“Kalau belum (teruji) ya tidak bisa jadi booster,” ujar kandidat PhD di Universitas Griffith tersebut.

Oleh karena itu, Dicky menyarankan penggunaan vaksin jenis messenger RNA (mRNA). Vaksin jenis ini pula yang akhirnya digunakan pemerintah sebagai booster untuk para Nakes. Proses penyuntikan vaksin ketiga yang menggunakan basis mRNA produksi Moderna itu pun telah dilakukan untuk para tenaga kesehatan sejak 16 Juli lalu.

Vaksin mRNA mengandung komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu. Hal tersebut bertujuan agar vaksin tersebut dapat memicu reaksi kekebalan tubuh layaknya virus dan kuman yang dilemahkan pada vaksin biasa.

Vaksin jenis mRNA itu adalah sama yang diproduksi Moderna dan Pfizer-Biontech. Dua merek vaksin seperti yang juga dipakai pemerintah Indonesia dalam program vaksinasi gotong royong dan gratis itu pun dikembangkan institusi RI yakni di Universitas Indonesia (UI).

Skala Prioritas tetap menjadi acuan untuk pemberian booster ini, Dicky juga kembali menekankan pentingnya skala prioritas berdasarkan kacamata epidemologi atau public health. Sebab, dalam masa pandemi terdapat masalah keterbatasan vaksin.

Menurutnya, pemberian booster harus diberikan kepada kelompok yang paling rawan secara pekerjaan seperti tenaga kesehatan. Selain itu adalah rawan berdasarkan keadaan tubuh seperti lansia dan yang memiliki komorbid. Dia mengatakan munculnya isu bahwa vaksin tidak cukup karena pemerintah tidak fokus melakukan vaksinasi terhadap kriteria yang menjadi prioritas dalam skema public health.

“Jadi nggak bisa merata, harus tetap berbasis public health,” tegas Dicky.

Ia juga mengingatkan bahwa vaksinasi memiliki tujuan jangka pendek-menengah berupa membangun proteksi individu sehingga terhindar dari risiko sakit dan kematian. Sementara, tujuan jangka panjangnya adalah terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity).

“Salah satu mengarah ke herd immunity ya harus tercapai dulu threshold-nya. Threshold ya seperti yang sekarang disebut misal minimal 80 persen dr total penduduk,” jelas Dicky.

Dari dua kelompok sampel yang diteliti, hanya terdapat 16,9 persen dan 35,2 persen yang masih terdeteksi memiliki antibodi setelah enam bulan vaksinasi dosis kedua.

Indonesia dan Thailand telah sepakat untuk memberikan suntikan penguat atau booster dari masing-masing vaksin Moderna dan vaksin Pfizer untuk beberapa orang yang divaksinasi penuh dengan vaksin Sinovac, di tengah kekhawatiran atas menurunnya efektivitas Sinovac terhadap varian Delta yang lebih menular dari strain awal virus corona. Untuk Turki telah mulai menawarkan dosis ketiga dari Sinovac atau Pfizer kepada beberapa orang yang telah mendapatkan suntikan vaksin Sinovac.(iwan)

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!