Proyek Rehab SMPN Satu Atap Sangkapura Molor, Proses Belajar Mengajar Terpaksa Melalui Daring

BAWEAN/GRESIK-JATIM, Mitrabratanews.com –
Proyek rehabilitasi gedung UPT SMPN Satu Atap di desa Dekatagung, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, menjadi sorotan masyarakat terutama para wali murid dan pihak sekolah. Pasalnya, pembangunan rehab sekolah yang seharusnya rampung dalam waktu 90 hari kerja hingga kini belum juga selesai.

Berdasarkan data yang diperoleh, proyek tersebut merupakan belanja modal bangunan gedung tempat pendidikan rehabilitasi sedang dan berat untuk ruang kelas SMPN Satu Atap. Proyek ini dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Gresik tahun 2025 dengan nilai kontrak sebesar Rp443.443.443.

Pekerjaan rehabilitasi itu tercatat melalui kontrak Nomor: 027/041/Kontrak Tender SMP.02.014/437.53/2025 tertanggal 26 Juni 2025. Pelaksana proyek adalah PT Solusi Pratama Konstruksi (SPK), dengan waktu pelaksanaan 90 hari kalender.

Namun hingga awal Oktober 2025, kondisi bangunan masih belum rampung. Kepala sekolah UPT SMPN Satu Atap, Makhruf, membenarkan keterlambatan tersebut saat dikonfirmasi wartawan Mitrabratanews.com di lokasi proyek, Sabtu (6/9/2025).

“Saya sudah melaporkan kondisi ini kepada Kepala Dinas Pendidikan Gresik dan mengirimkan foto-foto fisik bangunan yang dikerjakan yang sampai sekarang belum juga selesai,” ungkap Makhruf.

Papan proyek rehabilitasi gedung UPT SMPN Satu Atap di desa Dekatagung, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik yang terpasang dilokasi proyek menunjukan bahwa proyek itu sudah molor dari batas waktu yang ditetapkan.

Makhruf mengaku prihatin karena proses belajar mengajar di sekolahnya terpaksa dilakukan secara daring atau melalui Zoom selama tiga bulan terakhir. “Kami sudah berulang kali mengingatkan pihak pengawas proyek dan pelaksana agar segera menyelesaikan pekerjaan,” tambahnya.

Dari keterangan pihak kontraktor, keterlambatan tersebut disebabkan oleh kendala pengiriman material dari Gresik daratan menuju Pulau Bawean yang terhambat akibat cuaca yang buruk dan gelombang laut tinggi. Kondisi ini membuat kapal pengangkut logistik tidak dapat beroperasi selama beberapa waktu.

Selain faktor cuaca, stok material di lokasi proyek juga disebut tidak mencukupi. Perencanaan kebutuhan bahan bangunan oleh kontraktor dinilai kurang matang, sehingga berdampak pada keterlambatan pengerjaan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik belum memberikan keterangan resmi terkait langkah evaluasi terhadap keterlambatan proyek tersebut. (Rok)

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!