Lanjutan Kasus Penganiayaan Didalam Pabrik Petrokimia, PT Harapan Klarifikasi Intimidasi

GRESIK-JATIM, Mitrabratanews.com – Penganiayaan berbuntut pelaporan yang dilakukan oleh seorang buruh di perusahaan rekanan petrokimia gresik PT Harapan yang berinisial BA (43) terhadap atasannya RA (45) yang kini kasusnya sudah ditangani oleh polsek kota gresik makin berbuntut panjang.

Penganiayaan yang terjadi pada selasa malam (3/8/2021) lalu di lokasi pabrik 2 petrokimia gresik diduga luput dari pengawasan Pengamanan pabrik sehingga mengakibatkan RA mengalami luka lebam, memar dibagian mata sebelah kiri dan hidung mengeluarkan darah setelah dianiaya oleh BA (43) bawahannya sendiri.

Kanitreskrim Polsek Gresik Kota Ipda Eric melalui Bripka Aidi saat dikonfirmasi mengatakan bahwa setelah laporan penganiayaan masuk, korban RA diantar oleh anggota ke puskesmas kota untuk dilakukan visum. Visum ini dilakukan untuk membuktikan adanya tindak kekerasan secara fisik yang di lakukan oleh pelaku kepada korban.

Saat ini kasus ini masih dalam proses penyidikan, karena mempertimbangkan korban RA dan pelaku BA itu sesama buruh di PT Harapan, maka kami sudah menyediakan ruang untuk mediasi agar kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun berjalan 1 bulan proses mediasi ini belum menemui kesepakatan untuk berdamai“, Ungkap Bripka Aidi, Kamis (16/9/2021).

Saat ini kami masih menunggu proses perdamaian lebih lanjut, jika proses mediasi secara kekeluargaan tidak menemui titik temu, maka kasus akan kami lanjutkan ketahap berikutnya “, imbuh Bripka Aidi.

Sementara itu ibu Lili pimpinan PT Harapan saat dikonfirmasi oleh awak media dikantornya angkat bicara mengenai kejadian tersebut.

Beliau membenarkan jika RA adalah pekerjanya. Posisi RA sendiri sebagai mandor dan BA sebagai anak buahnya, namun terkait pernyataan korban soal adanya intimidasi dari pihak perusahaan untuk mencabut laporan perkara dan pemberian skorsing kepada korban tidak sepenuhnya benar.

Memang sempat ada mediasi, kami hanya beri arahan jika kasus ini mau dilanjut kami dari pihak perusahaan mempersilahkan karena ini urusan personal, tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan“, Ungkap ibu Lili diruangannya.

Kami hanya berharap dan menghimbau kepada RA, agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan saja, mengingat keduanya sama-sama pekerja yang sudah lama, bahkan untuk meringankan beban RA kami juga sudah memberikan bantuan untuk biaya pengobatan kepada korban RA” imbuhnya.

Mengenai skorsing yang diberikan kepada RA itu tidak ada sangkut pautnya dengan pencabutan laporan tapi skorsing itu diberikan oleh perusahaan karena RA tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan kepada pihak manajemen perusahaan karena mengurusi laporannya sehingga pekerjaan dilapangan sempat tidak terurus, jadi skorsing itu murni terkait indisipliner”, Tambah Lili.

Perusahaan sendiri akan segera memanggil RA untuk datang ke kantor manajemen untuk dimintai konfirmasi terkait berita yang sudah beredar di media“, Ujar Lili.

Korban RA sendiri ditempat berbeda membantah jika dirinya tidak memberitahukan perusahaan perihal yang dialaminya, dirinya tidak pernah mangkir dalam bekerja, bahkan skorsing secara lisan diduga luapan emosi pimpinan perusahaan.

“Karena saya tidak mau menuruti kemauan beliau untuk mencabut laporan, secara lisan bu lili memberikan saya skorsing dengan waktu yang tidak ditentukan, bahkan ada ucapan berarti sampean sudah siap jika dikeluarkan”, Ungkap RA.

Dengan segala konsekuensinya dirinya hanya ingin kasus ini tetap dilanjutkan, karena RA melihat itikad pelaku BA yang tidak secara tulus meminta maaf kepadanya atas perbuatan penganiayaan yang sudah dilakukannya.(ivn)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!