Ingin Menang Perkara Perdata, Siapkan Saksi Seperti Ini

Oleh : A Fajar Yulianto, SH.MH.CTL.
Direktur YLBH. Fajar Trilaksana
Pengasuh Rubrik Mitra Brata.

Mitrabratanews.com – Jika kita berperkara perdata maka untuk memenangkan sebuah pertarungan dalam pemeriksaan didepan Majelis Hakim di Pengadilan, maka kita harus mampu membuktikan dan meyakinkan Hakim, bahwa apa yang kita dalilkan, argumentasikan dan tuntutkan kepada lawan dihadapan Majelis Hakim pastika sependapat dengan kita. Maka dapat dijamin perkara kita akan menang.

Adapun alat bukti apa saja sebetulnya yang dapat mempengaruhi kemenangan dalam berperkara ?
Hakim akan mempertimbangkan beberapa alat bukti.
Berdasarkan pasal 1866 Kitab Undang Undang Hukum Perdata atau burgelijk wetboek voor Indonesia (BW) maka alat bukti berupa : Bukti Surat / tertulis, bukti saksi, persangkaan dan Sumpah.

Kali ini kita bahas dalam hal alat bukti Saksi khususnya Perkara perdata seperti dalam perkara Wanprestasi dan perbuatan melawan hukum ada ketentuan ketentuan persyaratan siapa saja yang boleh dan tidak diperbolehkan atau dilarang duduk sebagai saksi di depan persidangan.

Terlebih dahulu, perlu dijelaskan difinisi Saksi adalah seseorang yang mengalami, melihat dan mendengar sendiri atas adanya suatu kejadian, perbuatan dan peristiwa hukum yang terjadi. Sedangkan siapa saja yang dapat dijadikan saksi dalam persidangan tentu klasifikasi dapat pula di ketahui siapa saja yang tidak boleh menjadi saksi, artinya tidak semua orang dapat menjadi saksi.

Sesuai ketentuan pasal 145 HIR , saksi yang tidak dapat didengar keterangannya pada pokok intinya adalah:
1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak menurut keturunan garis lurus.
2. Istri atau laki dari salah satu pihak meskipun sudah bercerai.
3. Anak anak yang tidak diketahui benar apa sudah berumur 15 tahun.
4. Orang gila walaupun terkadang ingatanya terang.
5. Orang yang ada keterikatan Hubungan perjanjian pekerjaan dengan para pihak.

Selain dan selebihnya ketentuan diatas boleh menjadi saksi serta berikut ada ketentuan lain siapa yang boleh menjadi Saksi namun dapat mengundurkan diri jika terpaksa harus diajukan sebagai saksi dengan tidak perlu di sumpah.

Adapun terhadap orang-orang walaupun ada hubungan kedekatan kekerabatan garis lurus, perjanjian pekerjaan, dapat untuk memberikan kesaksian dibawah sumpah dalam perkara khusus terkait keadaan peristiwa hukum perdata bertalian dengan perkara sengketa perkawinan, perceraian, keturunan dan sejenisnya, serta perkara perkara perjanjian pekerjaan sebagaimana dimaksud Pasal 145 ayat (3) HIR/ Pasal 172 ayat (3) RBg.

Dalam hal saat kehadiran Saksi maka keharusan membawa Kartu Identitas diri yang sah, berikut secara teknis terlebih dahulu, agar pemeriksaan keterangan di persidangan berjalan lancar maka perlu dilakukan breefing / pengarahan terhadap calon saksi terkait :

Dapat menerangkan hubungan hukum dengan para pihak yang bersengketa (legal standing), merefresh kembali cerita atau keterangan apa yang di ketahui, dilakukan dan didengar sendiri.

Maka ketika persiapan Para saksi yang di hadirkan benar, dan keteranganya sesuai yang kita harapkan serta dapat sesui dengan data bukti surat yang menjadi dalil Gugatan maka Kemenangan sudah ada didepan mata.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!