Pelecehan..!!! Hendak Klarifikasi Ke BPN Gresik, Wartawan Marah Disodori Amplop

GRESIK-JATIM, Mitrabratanews.com – Peran Pers sebagai Pilar keempat dalam demokrasi negara indonesia, tugas mulianya menjadi kontrol sosial untuk memberikan informasi yang menjadi hak Masyarakat.

Kebebasan Pers di Indonesia tertuang dalam undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers. Namun acap kali awak media (pers) dalam menjalankan tugasnya, mengalami intimidasi bahkan pelecehan oleh oknum-oknum untuk melindungi kepentingannya.

Seperti halnya yang terjadi di lingkungan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Gresik (BPN Gresik) saat awak media CNN Indonesia, Poskota, dan Mitrabratanews mencoba mengklarifikasi berita, disambut dengan perlakuan yang terkesan melecehkan.

Bermula saat awak media mendatangi BPN Gresik, disambut dua orang security menanyakan maksud kedatangan awak media, dan dijawab untuk bertemu pihak BPN Gresik guna meminta klarifikasi terkait materi berita.

Oleh security BPN Gresik diminta menunggu sebentar, namun selang beberapa lama, dua orang security keluar dengan memberikan empat buah Map merah berisi amplop yang diduga sejumlah uang didepan Pintu masuk Loby sembari meminta koran dan link website ke awak media dengan nada agak tinggi.

Saat awak media menanyakan balik ke security BPN Gresik siapa yang menyuruh, dua orang security tersebut menyebutkan atas perintah pimpinan, jawaban tersebut memantik kemarahan awak media CNN indonesian Miftahul arief.

Tidak sendiri, awak media Mitrabratanews chandra, ivan serta sani dari Poskota pun ikut emosi atas sikap BPN, karena hal ini dinilai sangat melecehkan profesi jurnalis, karena maksud kedatangan awak media untuk klarifikasi seperti yang disampaikan diawal malah dianggap seperti pengamen.

Pelecehan BPN Gresik

Bahkan Miftahul Arief wartawan CNN indonesia yang juga menjadi korban pelecehan profesi di BPN Gresik sempat memarahi kedua security BPN atas perlakuan yang melecehkan tersebut.

Dengan nada keras mengatakan ” maksud kita itu untuk meminta klarifikasi, agar informasi yang kita dapat itu berimbang, koq malah kita dianggap seperti pengamen minta uang, kandanono pimpinane sampean, ojok kurang ajar “, kata miftahul arief sembari menolak keras map merah yang diduga berisi uang saat kejadian, Kamis sore (25/11).

“Saya merasa profesi saya sebagai wartawan sangat dilecehkan, harusnya kedatangan kami untuk klarifikasi di terima dulu, bukan malah dikasih sesuatu yang kami duga uang dengan maksud untuk mengusir kami secara halus atau untuk mempengaruhi klarifikasi kami, ngene carane podo karo ngusir”, tegas miftah.

“Disaat kementrian ATR/BPN ingin memberantas mafia tanah di tubuh BPN, seharusnya BPN Gresik jangan seperti anti terhadap wartawan, seharusnya wartawan dijadikan mitra sebagai bahan koreksi demi perbaikan, bukan malah hanya menerima wartawan yang memberitakan hal-hal yang positif untuk membangun pencitraan saja”, imbuh miftah.

Didalam video pelecehan yang berhasil diabadikan Ivan wartawan mitrabratanews, chandra firstianto yang turut hadir terlihat meredam amarah rekan media yang lainnya dan menjelaskan kembali pada kedua security tersebut perihal maksud dari kedatangan rekan-rekan media ke BPN.

“Beritahukan pimpinan sampean, kita wartawan datang untuk konfirmasi, jangan sampai nanti setelah berita ditulis malah dikomplain lho koq tidak dikonfirmasi mas, sementara ketika mau konfirmasi kita langsung di sodori hal yang seperti ini, ini maksudnya apa?”, kata chandra sembari menunjuk map merah dalam video yang menjadi bukti pelecehan.

Diwaktu yang sama, Ivan wartawan mitrabratanews juga mengungkapkan kegeramannya, “Saya itu kecewa dan juga heran dengan BPN Gresik, ketika diminta agenda klarifikasi Pimpinan BPN Gresik pak asep ferry tidak menjawab, ketika di beritakan, justru membantah ke media lain yang tidak pegang data atau tidak tahu apa-apa, ini kan pembodohan publik”, kata ivan.

“Media saya, membuka lebar hak jawab jika ada berita yang tidak sesuai, tapi setidaknya data informasi yang saya dapat, bisa diklarifikasi dan diluruskan secara tuntas, bukan malah membantah di media lain yang tidak tahu menahu terkait perkara, hanya penerima rilisan dari BPN saja”, tegas ivan.

“Ini saya hanya menduga, seperti ada ketakutan ketika pelayanan BPN Gresik kurang baik lalu dikoreksi oleh fungsi Pers lalu menghindar, tidak hanya itu bahkan beredar rumor dari rekan-rekan media lain, BPN Gresik itu hanya welcome terhadap wartawan yang memberitakan hal yang positif saja, tapi acuh terhadap hal yang korektif, ini sangat mengkerdilkan fungsi Pilar ke Empat dalam demokrasi ini”, tutup ivan.

Senada dengan yang lain, Sani wartawan senior dari Poskota yang biasa di sapa Kakek, juga mengungkapkan kegeramannya. Dirinya mengaku merasa dilecehkan dalam kejadian ini.

“Saya datang baik-baik tapi malah dilecehkan seperti ini, koyok pengamen ae (seperti pengamen saja-red), padahal klarifikasi itu justru menguntungkan BPN Gresik, gae ngelurusno berita, ben akurat (buat meluruskan berita, biar akurat)”, Ujar kakek.

“Malah teko-teko disodori map abang isine amplop (malah tiba-tiba disodori map merah berisi amplop-red), sing tak woco maksud e ngusir alus bekne (yang diduga, maksudnya mengusir halus mungkin)”, kata kakek.

Pelecehan wartawan di BPN Gresik
Wartawan CNN indonesia Miftahul Arief(kiri), Mitrabratanews Chandra firstianto (tengah), Poskota Kakek sani (kanan) saat disuruh menunggu didepan Loby BPN Gresik

“Kita itu butuh konfirmasi, ben berita e berimbang, jangan setiap datang ke BPN Gresik minta klarifikasi, anggapannya minta uang seperti pengamen” tutup kakek.

Meski hal ini sudah dikonfirmasikan ke Asep selaku kepala BPN via WA dan yang bersangkutan sudah meminta maaf tapi sikap BPN sudah sangat melecehkan profesi wartawan. Kami berharap semoga kedepan ada koreksi dari BPN tidak saja dalam hal pelayanan ke masyarakat tetapi juga lebih bisa menghormati dan menghargai profesi wartawan.(red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
error: Content is protected !!